FUNGSI MEDIA DALAM PENDIDIKAN,
BIMBINGAN DAN KONSELING
Makalah ini Dibuat sebagai Salah Satu
Pemenuhan Tugas Mata Kuliah
Teori Media BK
Oleh :
St. Saturninus
Adven Yora Dinata 11111
4060
PROGRAM
STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING
JURUSAN
ILMU PENDIDIKAN
FAKULTAS
KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS
SANATA DHARMA
YOGYAKARTA
2013
A. Pengertian
Media
Media berasal dari bahasa
latin merupakan bentuk jamak dari “Medium” yang secara harfiah berarti
“Perantara” atau “Pengantar” yaitu perantara atau pengantar sumber pesan dengan
penerima pesan. Sumber pesan dalam pembelajaran adalah guru, sedangkan penerima
pesan adalah siswa atau peserta didik.
Dalam Dictionary of Education, disebutkan bahwa media
adalah bentuk perantara dalam berbagai jenis kegiatan berkomunikasi. Sebagai perantara, maka media ini dapat berupa koran,
radio, televisi bahkan komputer.
Menurut Yuliani Nurani
Sujiono (2005) Media adalah:” segala sesuatu yang dapat dipakai atau
dimanfaatkan untuk merangsang daya pikir, perasaan, perhatian dan kemampuan
anak sehingga ia mampu mendorong terjadinya proses belajar mengajar pada anak”.
Pengertian media menurut Masitoh, dkk (2006). adalah :” peralatan
yang dapat mendukung anak secara komprehensif yang meliputi perkembangan fisik,
motorik, sosial, emosi, kognitif, kreatifitas dan bahasa”. Sementara itu Badru
Zaman (2005) mendifinisikan media:“ sebagai wahana dari pesan yang oleh sumber
pesan (guru) ingin diteruskan kepada penerima pesan (anak)”.
Dari beberapa pendapat di
atas dapat disimpulkan bahwa media adalah peralatan yang dapat dipakai atau dimanfaatkan
untuk merangsang perkembangan fisik, motorik, sosial, emosi, kognitif,
kreatifitas dan bahasa anak sehingga ia mampu mendorong terjadinya proses
belajar mengajar pada diri anak.
Jadi dapat kita simpulkan
bahwa media adalah sesuatu berupa peralatan yang dapat di pakai dan
dimanfaatkan untuk merangsang perkembangan dari berbagai aspek baik itu fisik,
motorik, sosial, emosi, kognitif, kreatifitas dan bahasa sehingga mampu
mendorong dan memudahkan terjadinya proses belajar mengajar pada guru dan peserta
didik. Media dapat dirancang/dibentuk secara kompleks dengan batasan tertentu
sehingga media itu sendiri dapat merangsang timbulnya semacam dialog
internal antara penyampai informasi dan penerima informasi. Dengan perkataan
lain pesan yang ingin disampaikan dapat diterima baik oleh penerima pesan
melalui media yang digunakan. Proses layanan bimbingan dan konseling merupakan
proses komunikasi, maka dari itu dalam melaksanakan layanan Bimbingan dan
Konseling juga membutuhkan Media sehingga dapat membantu dan mempermudah para
konselor dalam pelaksanaan Layanan Bimbingan dan Konseling.
B. Media
Bimbingan Konseling
Pengertian media dalam
bimbingan konseling sebagai hal yang digunakan menjadi perantara atau pengantar
ketika guru BK (konselor) melaksanakan program BK. Namun dalam perkembanganya
Media BK tidak sebatas untuk perantara atau pengantar ketika guru BK
(konselor) melaksanakan program BK tetapi memiliki makna yang lebih
luas yaitu segala alat bantu yang dapat digunakan dalam melaksanakan program BK
(Diklat profesi guru, PSG Rayon 15, 2008). Misalnya
ketika konselor melaksanakan konseling individu memerlukan ruang konseling,
meja-kursi, alat perekam/pencatat. Ketika konselor pada akhir
minggu/bulan/semester/tahun akan melaporkan kegiatan kepada Kepala Sekolah
memerlukan media.
Sebagaimana
dituliskan Deviarimariani pada situsnya Penerapan Teknologi Informasi
Konseling, Gagne menyatakan bahwa media adalah berbagai jenis komponen dalam
lingkungan siswa yang dapat merangsangnya untuk belajar. Lebih lanjut, Briggs
menyatakan bahwa media adalah segala alat fisik yang dapat menyajikan pesan
serta merangsang siswa untuk belajar. Definisi tersebut mengarahkan kita untuk
menarik suatu simpulan bahwa media adalah segala jenis (benda) perantara yang
dapat menyalurkan informasi dari sumber informasi kepada orang yang membutuhkan
informasi.
Ada beberapa jenis media
dalam program BK yaitu:
1.
Media untuk menyampaikan informasi
2.
Media sebagai alat ( pengumpul data dan
penyimpan data)
3.
Media sebagai alat bantu dalam memberikan
group information
4.
Media sebagai Biblioterapi
5.
Media sebagai alat menyampaikan laporan
Berikut
merupakan beberapa contoh media diantara adalah :
1.
Media untuk menyampaikan informasi.
Selebaran, leaflet, booklet,
dan papan bimbingan.
2.
Media sebagai alat ( pengumpul data dan
penyimpan data)
a)
Media Pengumpul data seperti: angket, pedoman
wawancara, lembaran observasi berupa anekdo record, daftar cek, skala
penilaian, mekanikal device, camera, tape, daftar cek masalah, lembar
isian pilihan teman (semua dapat dibuat sendiri kecuali mekanikal device,
camera, tape).
b)
Media penyimpan data seperti: kartu pribadi,
buku pribadi, map, disket, folder, filing cabinet, almari, rak dll.\
3.
Media sebagai alat bantu dalam memberikan
group information.
a)
Media auditif : radio, tape
b)
Media visual :
gambar, foto, tranparansi, lukisan, dll
c)
Media audio visual : film yang ada suaranya.
4.
Media sebagai Biblioterapi
Buku-buku, majalah, komik (yang
penting di dalamnya berisi cara-cara atau tips) misalnya cara beternak ayam,
cara cepat membaca Alquran, cara mengatasi rendah diri, cara meningkatkan
motivasi belajar, dan beberapa buku yang berisi cara-cara atau tips lainnya.
5.
Media sebagai alat menyampaikan laporan
Berupa laporan kegiatan BK. Laporan bisa
mingguan, bulanan, semesteran dan tahunan.
Dengan demikian Media BK
dapat berperan di dalam pelaksanaan kegiatan program layanan bimbingan dan konseling
sebagai alat bantu dalam melaksanakan berbagai kegiatan bimbingan
dan juga kegiatan konseling individu maupun konseling kelompok.
Media bimbingan dan
konseling dalam penggunaannya harus relevan dengan tujuan layanan dan isi
layanan. Hal ini mengandung makna bahwa penggunaan media dalam layanan
bimbingan dan konseling harus melihat kepada tujuan penggunaannya dan
memiliki nilai dalam mengoptimalkan layanan yang diberikan kepada siswa.
Oleh karena itu dengan penggunaan media dalam layanan bimbingan dan
konseling berfungsi untuk meningkatkan kualitas proses layanan bimbingan dan
konseling.
C. Jenis-
jenis Media
Beberapa para ahli
mendefinisikan jenis-jenis media menjadi beberapa unsur, seperti Rudy
Bretz, mengidentifikasi media menjadi tiga unsur: suara, visual dan gerak.
Visual dibedakan menjadi tiga, yaitu: gambar, garis (line
graphic), dan simbol yang merupakan suatu kontinum dari bentuk dapat
ditangkap dengan indera penglihatan.
Bretz juga membedakan
antara media siar (tellecomunication) dan media rekaman (recording), sehingga
ada 8 klasifikasi media yaitu :
1.
Media audio visual gerak
2.
Media audio visual diam
3.
Media audio gerak
4.
Media visual gerak
5.
Media visual diam
6.
Media semi gerak
7.
Media audio
8.
Media cetak
Sedangkan Briggs, lebih
mengarah pada karakteristik menurut stimulus atau rangsangan yang dapat
ditimbulkan daripada medianya sendiri. Ada 13 macam media, yaitu: obyek, model
suara langsung, rekaman audio, media cetak. Pembelajaran, terprogram, papan
tulis, media transparasi, film rangkai, film bingkai, film, televise, dan
gambar.
Gagne, membuat 7 macam
pengelompokan media yaitu: benda untuk didemonstrasikan, komunikasi lisan,
media cetak, gambar diam, gambar gerak, film bersuara, dan mesin belajar.
Ketujuh kelompok media ini dikaitkan dengan kemampuan belajar menurut hirarki:
pelontar stimulus belajar, penarik minat belajar, contoh perilaku belajar,
member kondisi eksternal, menuntun cara berpikir, memasukkan alih-ilmu, menilai
prestasi, dan pemberi umpan balik.
Banyak
sekali jenis media yang sudah dikenal dan digunakan dalam penyampaian informasi
dan pesan-pesan pembelajaran. Setiap jenis atau bagian dapat pula dikelompokkan
sesuai dengan karakteristik dan sifat-sifat media tersebut. Sampai saat ini
belum ada kesepakatan yang baku dalam mengelompokkan media. Jadi banyak tenaga
ahli mengelompokkan atau membuat klasifikasi media akan tergantung dari sudut
mana mereka memandang dan menilai media tersebut. Penggolongan media
pembelajaran menurut Gerlach dan Ely yang dikutip
oleh Rohani (1997) yaitu :
1.
Gambar
diam baik dalam bentuk teks, bulletin, papan display, slide, film strip, atau
overhead proyektor.
1.
Gambar
gerak baik hitam putih, berwarna, baik yang bersuara maupun yang tidak
bersuara.
2.
Rekaman
bersuara baik dalam kaset maupun piringan hitam.
3.
Televisi
4.
Benda-benda
hidup, simulasi maupun model.
5.
Instruksional
berprograma ataupun CAI (Computer Assisten Instruction).
Jika dilihat dari berbagai sudut pandang media digolongan sebagai berikut:
Dilihat dari jenisnya media dapat digolongkan menjadi
media Audio, media Visual dan media Audio Visual.
1.
Dilihat
dari daya liputnya media dapat digolongkan menjadi media dengan daya liput luas
dan serentak, media dengan daya liput yang terbatas dengan ruang dan tempat dan
media pengajaran individual.
2.
Dilihat
dari bahan pembuatannya media dapat digolongkan menjadi media sederhana (murah
dan mudah memperolehnya) dan media komplek.
3.
Dilihat
dari bentuknya media dapat digolongkan menjadi media grafis (dua dimensi),
media tiga dimensi, dan media elektronik.
Menurut Heinich,
Molenda, Russel ( 1996 ) jenis media yang lazim dipergunakan dalam
pembelajaran antara lain :
1.
Media
nonproyeksi
2.
Media
proyeksi
3.
Media
audio
4.
Media
gerak
5.
Media
komputer
6.
Komputer
multimedia
7.
Hiper
media , dan
8.
Media
jarak jauh
Adapun
Jenis media dalam pembelajaran antara lain sebagai berikut :
1.
Media
grafis, seperti gambar foto grafik, bagan diagram, kartun, poster, dan komik
2.
Media
tiga dimensi yaitu, media dalam bentuk model padat, model penampang
, model kerja , dan diorama.
3.
Media
proyeksi seperti, slide film stips, film, dan OHP
D.
Keterkaitan Penggunaan Media dalam Konseling
Pada zaman sekarang
tekhnologi sudah semakin berkembang, dan saat ini kita seperti hidup dalam
dunia teknologi. Hampir seluruh aktivitas tergantung pada canggihnya teknologi,
terutama teknologi komunikasi. Konseling sebagai usaha bantuan kepada siswa,
saat ini telah mengalami perubahan-perubahan yang sangat cepat. Perubahan ini
dapat ditemukan pada bagaimana teori-teori konseling muncul sesuai dengan
kebutuhan masyarakat atau bagaimana media teknologi bersinggungan dengan
konseling. Media dalam konseling antara lain adalah komputer dan perangkat
audio visual.
Komputer merupakan salah
satu media yang dapat dipergunakan oleh konselor dalam proses konseling.
Pelling (2002) menyatakan bahwa penggunaan komputer (internet) dapat
dipergunakan untuk membantu siswa dalam proses pilihan karir sampai pada tahap
pengambilan keputusan pilihan karir. Hal ini sangat memungkinkan, karena dengan
membuka internet, maka siswa akan dapat melihat banyak informasi atau data yang
dibutuhkan untuk menentukan pilihan studi lanjut atau pilihan karirnya.
Data-data yang didapat
melalui internet, dapat dianggap sebagai data yang dapat dipertanggungjawabkan
dan masuk akal (Pelling 2002;). Data atau informasi yang didapat melalui
internet adalah data-data yang sudah memiliki tingkat validitas tinggi. Hal ini
sangat beralasan, karena data yang ada di internet dapat dibaca oleh semua
orang di muka bumi.
Sebagai contoh, saat ini
dapat kita lihat di internet tentang profil sebuah perguruan tinggi. Bahkan,
informasi yang didapat tidak sebatas pada perguruan tinggi saja, tetapi bisa
sampai masing-masing program studi dan bahkan sampai pada kurikulum yang
dipergunakan oleh masing-masing program studi. Data-data yang didapat oleh
siswa pada akhirnya menjadi suatu dasar pilihan yang dapat
dipertanggungjawabkan. Tentu saja, pendampingan konselor sekolah dalam hal ini
sangat diperlukan.
Sampsons (2000)
mengungkapkan bahwa fasilitas di internet dapat dapat dipergunakan untuk
melakukan testing bagi siswa. Tentu saja hal ini harus didasari pada kebutuhan
siswa.
Penggunaan komputer di
kelas sebagai media bimbingan dan konseling akan memiliki beberapa keuntungan
seperti yang dinyatakan oleh Baggerly sebagai berikut:
1.
Akan meningkatkan kreativitas, meningkatkan
keingintahuan dan memberikan variasi pengajaran, sehingga kelas akan menjadi
lebih menarik.
2.
Akan meningkatkan kunjungan ke web site,
terutama yang berhubungan dengan kebutuhan siswa.
3.
Konselor akan memiliki pandangan yang baik
dan bijaksana terhadap materi yang diberikan.
4.
Akan memunculkan respon yang positif terhadap
penggunaan email.
5.
Tidak akan memunculkan kebosanan.
6.
Dapat ditemukan silabus, kurikulum dan lain
sebagainya melalui website.
7.
Terdapat pengaturan yang baik
Selain penggunaan internet
seperti yang telah diuraikan di atas, dapat dipergunakan pula software seperti
microsoft power point. Software ini dapat membantu konselor dalam menyambaikan
bahan bimbingan secara lebih interaktif. Konselor dituntut untuk dapat
menyajikan bahan layanan dengan mempergunakan imajinasinya agar bahan
layanannya tidak membosankan. Program software power point memberikan
kesempatan bagi konselor untuk memberikan sentuhan-sentuhan seni dalam bahan
layanan informasi. Melalui program ini, yang ditayangkan tidak saja berupa
tulisan-tulisan yang mungkin sangat membosankan, tetapi dapat juga ditampilkan
gambar-gambar dan suara-suara yang menarik yang tersedia dalam program power
point. Melalui fasilitas ini, konselor dapat pula memasukkan gambar-gambar di
luar fasilitas power point, sehingga sasaran yang akan dicapai menjadi lebih
optimal.
Gambar-gambar yang
disajikan melalui program power point tidak statis seperti yang terdapat pada
Over Head Projector (OHP). Konselor dapat memasukkan gambar-gambar yang
bergerak, bahkan konselor bisa melakukan insert gambar-gambar yang ada di
sebuah film.
Media lain yang dapat
dipergunakan dalam proses bimbingan dan konseling di kelas antara lain adalah
VCD/DVD player. Peralatan ini seringkali dipergunakan oleh konselor untuk
menunjukkan perilaku-perilaku tertentu. Perilaku-perilaku yang tampak pada
tayangan tersebut dipergunakan oleh konselor untuk merubah perilaku klien yang
tidak diinginkan (Alssid & Hitchinson, 1977; Ivey, 1971, dalam Baggerly
2002). Dalam proses pendidikan konselor pun, penggunaan video modeling ini juga
dipergunakan untuk meningkatkan keterampilan dan prinsip konseling yang akan
dikembangkan bagi calon konselor (Koch & Dollarhide, 2000, dalam Baggerly,
2002).
Sebelum VCD/DVD player ini
ditayangkan, seorang konselor sebaiknya memberikan arahan terlebih dahulu
kepada siswa tentang alasan ditayangkannya sebuah film. Hal ini sangat penting,
sebab dengan memiliki gambaran dan tujuan film tersebut ditayangkan, maka siswa
akan memiliki kerangka berpikir yang sama. Setelah film selesai ditayangkan,
maka konselor meminta siswa untuk memberikan tanggapan terhadap apa yang telah
mereka lihat. Tanggapan-tanggapan ini pada akhirnya akan mempengaruhi bagaimana
klien berpikir dan bersikap, yang kemudian diharapkan akan dapat merubah
perilaku klien atau siswa.
Kelebihan lainnya dalam
pemberian layanan Bimbingan dan Konseling dengan menggunakan media internet
adalah dapat melintasi jarak dan waktu; serta klien dapat mengakses data yang dibutuhkan
dengan cepat.
E.
Kerugian Penggunaan Media dalam Konseling
Menurut Pelling (2002),
walaupun saat ini masyarakat sangat tergantung pada teknologi, tetapi di lain
pihak, masih banyak diantara kita yang mengalami ketakutan untuk mempergunakan
teknologi. Tidak dapat dipungkiri bahwa sebagian besar masyarakat kita masih
percaya bahwa pernyataan-pernyataan yang diberikan oleh orang tua atau orang
yang dituakan masih dianggap lebih baik. Hal ini tidak lepas dari budaya
paternalistik yang melingkupi masyarakat kita. Sebaik apapun teknologi yang
berkembang, tetapi jika pola pikir masyarakat masih terkungkung dengan
nilai-nilai yang diyakini benar, maka data atau informasi yang didapat
seakan-akan menjadi tidak berguna.
Hal lain yang terkait
dengan penggunaan media dalam bimbingan dan konseling adalah sasaran pengguna
seringkali disamakan. Walaupun ragam media sudah bermacam-macam, tetapi media
ini seringkali masih belum bisa menyentuh sisi afektif seseorang. Dalam
bimbingan dan konseling dikenal istilah empati. Penggunaan media, seringkali
pula akan “menghilangkan” empati konselor, jika konselor mempergunakan media
sebagai alat bantu utama. Klien datang ke ruang konseling tidak selalu
membutuhkan informasi dari internet atau komputer, bahkan ada kemungkinan klien
atau siswa datang ke ruang konseling juga tidak membutuhkan bantuan dari
konselor secara langsung melalui proses konseling. Tetapi adakalanya, siswa
atau klien datang ke ruang konseling hanya ingin mendapatkan senyuman dari
konselor atau penerimaan tanpa syarat dari konselor.
Dalam menggunakan media,
seperti internet ada kekurangannya seperti data sering kali sulit dilindungi;
sulit mengetahui respon klien secara langsung; serta mahal. Selain itu ada
beberapa dampak negatif dari beberapa alat media yang digunakan jika pengguna
dan pelaksananya tidak memahami dampak yang akan ditimbulkan. Beberapa contoh
dampak negatif penyalahgunaan teknologi informasi seperti :
1.
Beredarnya rekaman video porno di ponsel
2.
Beredarnya video porno bajakan yang dilakukan
oleh anak negeri
3.
Banyaknya video-video yang lebih kepada video
porno yang beredar di internet yang dapat di akses dan di lihat oleh kalangan
manusia tidak hanya orang dewasa tetapi juga anak-anak.
Peralatan teknologi yang
ada saat ini hanya bisa bermanfaat jika dimanfaatkan oleh mereka yang memahami
penggunaan masing-masing alat tersebut. Artinya penggunaan teknologi ini akan
memunculkan efek yang baik jika dijalankan oleh mereka yang paham peralatan
tersebut.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Media adalah sesuatu berupa
peralatan yang dapat di pakai dan dimanfaatkan untuk merangsang perkembangan
dari berbagai aspek baik itu fisik, motorik, sosial, emosi kognitif,
kreatifitas dan bahasa sehingga mampu mendorong dan memudahkan terjadinya
proses belajar mengajar. Sehingga pesan yang ingin disampaikan dapat diterima
baik oleh penerima pesan melalui media yang digunakan. Dalam melaksanakan
proses layanan Bimbingan dan Konseling juga membutuhkan Media sehingga dapat
membantu dan mempermudah para konselor dalam pelaksanaan Layanan BK.
Media dalam bimbingan dan
konseling sebagai hal yang digunakan menjadi perantara atau pengantar ketika
guru BK (konselor) melaksanakan berbagai kegiatan BK, namun dalam
perkembangannya media BK tidak sebatas untuk perantara atau pengantar ketika
guru BK (konselor) melaksanakan berbagai kegiatan bimbingan dan konseling,
tetapi memiliki makna yang lebih luas yaitu segala alat bantu yang dapat
digunakan dalam pelaksanaan program BK.
Daftar Pustaka
http://melskonseling.blogspot.com/2012/12/media-bimbingan-dan-konseling.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar